TUGAS KELOMPOK
Mata Kuliah ASKEB IV PATOLOGI
DMG (Diabetes Mellitus Gestasional)
Disusun Oleh :
Agustina Wulandari NIM : 090901003
Aulia Ikrar Oka Rinanda NIM : 090901006
AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA PEKANBARU
Tahun Akademik : 2010 / 2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok ini tepat waktu.
Tugas kelompok berjudul “DMG (Diabetes Melitus Gestasional)” ini kami susun untuk memenuhi salah satu nilai tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan IV Patologi yang diberikan oleh Ibu Rani Irinericy, SST. sebagai sarana pembelajaran pada materi perkuliahan Asuhan Kebidanan IV pada umumnya, dan materi infeksi yang menyertai kehamilan dan persalinan pada khususnya.
Penyusun menyadari bahwa tugas ini masih terdapat banyak kesalahan baik penulisan maupun dari segi materi pembahasan, maka dari itu penyusun masih mengharapkan saran yang bersifat membangun agar tugas ini dapat sempurna dikemudian hari.
Akhir kata, penyusun mengucapkan selamat membaca dan semoga tugas ini bermanfaat dikemudian hari. Amin.
Pekanbaru, Maret 2011
Penyusun
DIABETES MELLITUS GESTASIONAL (DMG)
Diabetes Mellitus (DM)
A. Pengertian
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.
Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.
B. Tanda Gejala
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.
Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :
1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
10. Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.
Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1. Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing manis.
C. Tipe Penyakit Diabetes Mellitus
1. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin, dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM).
Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.
Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1.
Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit.
2. Diabetes mellitus tipe 2
Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM).
Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.
Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan.
D. Kadar Gula Dalam Darah
Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 - 150 mg/dL {millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 - 8 mmol/l {milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.
Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal, sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal.
Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.
Banyak alat test gula darah yang diperdagangkan saat ini dan dapat dibeli dibanyak tempat penjualan alat kesehatan atau apotik seperti Accu-Chek, BCJ Group, Accurate, OneTouch UltraEasy machine.
E. Pengobatan dan Penanganan Penyakit Diabetes
Penderita diabetes tipe 1 umumnya menjalani pengobatan therapi insulin (Lantus/Levemir, Humalog, Novolog atau Apidra) yang berkesinambungan, selain itu adalah dengan berolahraga secukupnya serta melakukan pengontrolan menu makanan (diet).
Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program pengobatan, yaitu dengan mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga. Jika hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka pemberian obat tablet akan diperlukan. Bahkan pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah.
DIABETES MELLITUS GESTASIONAL (DMG)
A. Pengertian
Diabetes Mellitus Gestasional adalah penyakit diabetes yang dialami ibu selama masa kehamilan atau masa gestasi.
B. Prinsip Dasar Masalah
Ibu
• DMG hanya merupakan gangguan metabolisme yang ringan, tetapi hiper glikemia ringan tetap dapat memberikan penyulit pada ibu, berupa:
- Preeklamsi- Polihidramnion
- Infeksi saluran kemih
- Persalinan seksio sesarea
- Trauma kelahiran karena kelahiran bayi besar
• Sekitar 40%-60% wanita yang pernah DMG pada pengamatan lanjut pasca persalinan akan mengidap diabetes militus atau toleransi glukosa terganggu
Perinatal
Kematian perinatal bayi dengann ibu DMG ( BIDMG ) sangat tergantung dari keadaan hiperglikemia ibu. Di klinik yang maju sekalipun angka kematian di laporkan 3-5%. Angka kejadian komplikasi BIDMG di Subbagian Perinatologi FKUI/RSUPNCM dari tahun 1994-1995 adalah 5/10.000 kelahiran.
• Makrosomia
Ibu dengan DMG 40% akan melahirkan bayi dengan BB berlebihan pada semua usia kehamilan. Makrosomia mempertinggi terjadinya trauma lahir, sinhdrom aspirasi mekoneum dan hipertensi pulmonal persisten. Trauma lahir biasanya terjadi akibat distosia bahu, sehingga dapat menyebabkan fraktur humerus, klavikula, palsi Erb syaraf frenikus, bahkan kematian janin.
Sekitar 20-50% bayi dengan ibu DMG mengalami hipoglikemia (GD < 30 mg/dl) pada 24 jam pertama setelah lahir dan biasanya terjadi pada bayi makrosomia.
• Hambatan pertumbuhan janin Ibu DMG dengan komplikasi vaskular akan memberikan bayi dengan BB rendah pada kehamilan 37-40 minggu. Hal ini dapat terjadi juga karena adanya perubahan metabolik ibu selama masa awal persalinan.
• Cacat bawaan Kejadian cacat bawaan adalah 4,1% BIDMG. Cacat bawaan terjadi paling banyak pada kehamilan dengan DMG yang tidak terpantau sebelum kehamilan dan pada trimester pertama. Lima puluh persen kematian perinatal disebabkan kelainan jantung (TAB, VSD, ASD), kelainan ginjal (agenesis ginjal), kelainan saluran cerna (situs inversus, syndrome kolon kiri kecil), kelainan neurologi dan skelet. Kekerapan cacat bawaan ringan lebih besar, mencapai sekitar 20%.
• Hipokalsemi dan hipomagnesemia Bayi dikatakan hipokalsemia bila kadar kalsium darahnya < 7 mg/dl (kalsium ion < 3 mg/dl). Beratnya hipokalsemia berhubungan dengan tingkat terkendalinya kadar glukosa ibu DMG. Bayi mengidap hipomagnesemia bila kadar magnesium < 1,5 mg/dl. Biasanya hipomasgnesemia terjadi bersamaan dengan hipokalsemia.
• Hiperbilirubinemia Meningkatnya kadar bilirubin indirect pada 20-25% BIDMG, akibat pengrusakan eritrosit yang mungkin terjadi karena perubahan pada membran eritrosit.
• Polisitemia hematologis
• Asfiksia perinatal Asfiksia perinatal terjadi pada 25% BIDMG, mungkin disebabkan oleh makrosomia, prematuritas, penyakit vaskulat ibu yang menyebabkan hipoksia intrauterin atau pada bayi yang lahir dengan seksio sesarea.
• Syndrom gawat nafas neonatal Kejadian sindrom gawat nafas neonatal berkolerasi dengan tingkat pengendalina kadar glukosa ibu DMG. Angka kejadian sindrom gawat nafass jelas sekali menurun pada ibu DMG dengan kadar glukosa darah yang terkendali baik. Sebagian lagi gawat nafas ini disebabkan karena prematuritas, dengan produksi surfaktan paru belum cukup atau bayi dilahirkan dengan sseksio sesarea. C. Penanganan umum
• Penatalaksanaan DMG dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam, spesialis obstetri ginekologi, ahli gizi dan spesialis anak.
• Tujuan penanganan adalah mencapai dan mempertahankan keadaan normoglikemia sejak hamil hingga persalinan, yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl.
• Untuk mencapai sasaran tersebut dilakukan : o Perencanaan makan yang sesuai dengan kebutuhan. o Pemantauan glukosa darah sendiri di rumah. o Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan.
• Segera setelah pasien didiagnosis DMG, dilakukan pemeriksaan glukosa darah puasa dan dua jam sesudah makan untuk menentukan langkah penatalaksanaan.
• Bila kadar glukosa darah puasa > 130 mg/dl pada pasien langsung diberikan insulin disamping perencanaan makan, teruttama pada penderita yang terdiagnosis setelah usia kehamilan mencapai 28 minggu.
• Bila kadar glukosa darah puasa < 130 mg/dl, dimulai dengan perencanaan makan saja dahulu.
• Monitor kesejahteraan janin.
• Saat melahikan janin disesuaikan dengan kemampuan kontrol gula darah dan kesejahteraan janin. Pada kelahiran pervaginam perhitungkan kemungkinan terjadinya kesulitan karena makrosomia.
Penapisan untuk DMG harus dilakukan pada semua wanita hamil.
Faktor resiko DMG :
Riwayat kebidanan
• Beberapa kali keguguran.
• Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas.
• Riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan.
• Pernah melahirkan bayi lebih dari 4000 gram.
• Pernah preeklampsia.
• Polihidramnion. Riyawat ibu
• Umur ibu hamil > 30 tahun.
• Riwayat DM dalam keluarga.
• Pernah DMG dalam kehamilan sebelumnya.
• Infeksi saluran kemih berulang-ulang selama hamil.
E. Diagnosis
Wanita Hamil Kadar gula darah < 140 mg/dl > 140 mg/dl
Puasa
Glukosa 75 gram
Plasma 2 jam 140 – 199 mg/dl >200 mg/dl >200 mg/dl
Diagnosis Toleransi Glukosa Terganggu DM DMG
F. Persiapan pemeriksaan
Pasien harus makan mengandung cukup karbohidrat minimal 3 hari sebelumnya, kemudian semalam sebelum hari pemeriksaan harus berpuasa selama 8 sampai 12 jam. Setelah persiapan dalam keadaan berpuasa, pagi hari diambil contoh darah, kemudian diberikan beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air. Contoh darah berikutnya diperiksa 2 jam setelah beban glukosa. Contoh darah yang diberikan adalah plasma vena.
Bergantung dari perawatan antenatal, pertolongan persalinan, dan perawatan di bangsal neonatus dan pemantauan jangka panjang. Prognosis untuk hidup umumnya baik. Prognosiis intelegensia yang normal tergantung dari lama dan beratnya hipoglikemia dengan gejala, terutama bila diderita oleh bayi dengan BB lahir rendah dan BIDMG cenderung menyebabkan intelegensia yang rendah apabila dibandingkan dengan hipoglikemia tanpa gejala.
H. Penanganan
Prinsip penanganan
• Kontrol secara ketat kadar gula darah, sebab bila kontrol kurang baik upayakan lahir lebih dini, dengan pertimbangan kematangan pada janin. Dapat terjadi kematian janin mendadak. Berikan insulin yang bekerja secara cepat, bila mungkin memberikan secara drip.
• Hindari adanya infeksi traktus urinarius atau infeksi lainnya. Lakukan upaya pencegahan infeksi dengan baik.
• Bayi baru lahir bisa terjadi hipoglikemia yang cepat, perlu diatasi dengan memberi infus glukosa.
I. Pemantauan lanjut
• Disarankan agar pada semua wanita DMG setelah persalinan dilakukan tes toleransi glukosa setiap 6 bulan sekali.
• Perlindungan obstetri melalui pemakaian kontrasepsi harus diterapkan pada penderita DMG.
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Pertama. Jakarta : Media Aesculapius.
Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP.


