Jumat, 13 Januari 2012

JOGJAKARTA


Pertama kali ku menginjakkan kaki ditanahmu, rasa nyaman,tentram, dan semangatku membara.
Semangat seorang anak SD kelas 4 yang menginginkan kelak dapat menuntut ilmu di kota itu.
Jogjakarta
Begitu antusiasnya aku untuk kali kedua menapakkan kakiku di kotamu yang masih tetap sejuk dan ramah.
Ketika itu ibuku akan wisuda di salah satu PTN di kota itu dan aku masih kelas 1 SMP.
Meskipun hanya berkunjung ke Malioboro-mu dalam waktu kurang dari 2 jam, secara diam-diam aku berjanji pada diriku sendiri, kelak lulus SMA aku harus bisa menuntut ilmu di Jogjakarta.
Ketika duduk dibangku SMA kelas XII aku memiliki keinginan untuk dapat melanjutkan di Psikologi/Farmasi/Hukum PTN favorit di Jogjakarta. Namun orang tua tidak merestui untuk mencoba “peruntungan” di PTN itu. Dengan alasan orang tua ingin dekat dengan anak-anaknya.
Baiklah... aku menuruti kata-kata orang tuaku.
Aku kembali berkumpul dengan keluargaku di pulau Sumatra ini.
Berbagai cara hingga saat ini masih aku coba agar aku bisa “pulang lagi” ke kota Jogjakarta yang menjadi semangatku selama ini.
Libur lebaran kemarin Allah meridhoi aku pulang ke tanah jawa. Aku bisa “pulang lagi”. Aku kembali lagi ke kota itu.
Betapa bahagianya aku saat orang tuaku mengizinkan aku berlibur kesana, meskipun “nebenk” selama 5 hari perjalanan darat dengan keluarga kawanku yang mau mudik ke Banyuwangi.
Semangatku tak pernah pupus jika aku mengingat Jogjakarta.
Namun sayang....
Begitu berharganya Jogja dalam kehidupanku selama ini, kini aku harus bisa memilih.



Jogja kota yang istimewa.
Satu kota yang menjadi idola sejak SD dan membuatku bercita-cita menuntut ilmu disana.
Menikmati suasana Jogja dengan berjalan kaki.
Semangatku adalah Jogja.
Dan sekarang???
Apakah aku harus menghapus memori’ku tentang Jogja?
Memori yang mengingatkan aku tentang liburan kemarin.
Memori yang mengingatkan aku tentang kamu!

Aku butuh semangat itu, tapi aku harus melupakanmu!
Sakit dan menyesakkan dada.
Hanya bisa menangis, rasanya seperti teriris
Sakit, perih...
Adakah yang tau apa yang aku rasa?
Adakah yang tau aku harus berbuat apa?
Tolong aku!!

01 JANUARI 2012


Apa yang aku lakukan sekarang?
Benarkah ini aku?
Sulit untuk mengikhlaskan kamu.
Sulit untuk memberikan izin.
Sulit untuk memebrikan persetujuanku untuk masalah ini.
Karena ini bagiku terlalu terburu-buru.
Terlalu mendadak.
Tidak hanya untukku, tapi juga untukmu.

Aku belum siap jauh.
Aku belum siap mendengar kamu dengan dia.
Aku belum siap dinomor-duakan ketika kamu bersama dengan “substituen”ku

Mungkin aku terlalu egois,
Aku terlalu takut,
Karena aku telah terbiasa.
Hari-hariku pasti ada kamu.

Aku belum bisa.
Jangan paksa aku menerima seperti ini.
Cukup dengan masalah yang akan aku lalui 7 bulan ini.
Tapi aku tak bisa menjamin jika 7 bulan tanpa penyemangat sepertimu,
Apakah aku bisa melewati semua ujian ini??